fraksipan.com - Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PAN, Dewi Coryati, mendorong pemerintah memperkuat strategi storytelling dalam pemanfaatan benda-benda cagar budaya hasil repatriasi. Menurutnya, pengembalian warisan budaya ke Indonesia tidak boleh berhenti pada proses pemulangan semata, tetapi harus diikuti dengan upaya membangun narasi yang kuat agar koleksi tersebut menjadi sarana edukasi, penguatan identitas bangsa, serta daya tarik wisata budaya.

Pandangan tersebut disampaikan Dewi Coryati dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Panitia Kerja (Panja) Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya Komisi X DPR RI bersama Kementerian Kebudayaan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Ekonomi Kreatif di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6/2026).

Menurut Dewi, benda-benda budaya yang berhasil direpatriasi memiliki nilai sejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia. Namun, manfaatnya akan jauh lebih besar apabila masyarakat dapat memahami sejarah, makna, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Dewi Coryati: Repatriasi Cagar Budaya Harus Tepat Sasaran

Dewi Coryati menilai upaya repatriasi benda-benda budaya dari luar negeri merupakan langkah strategis untuk mengembalikan warisan sejarah bangsa. Namun demikian, proses tersebut membutuhkan biaya, tenaga, serta diplomasi yang tidak sedikit sehingga perlu dilakukan secara selektif dan terukur.

Menurutnya, pemerintah perlu menentukan prioritas terhadap koleksi-koleksi yang memiliki nilai historis, ilmiah, dan budaya paling strategis untuk dipulangkan ke Indonesia.

“Kalau kita mengatakan itu semua barang milik kita, memang benar. Tetapi untuk memulangkannya memerlukan biaya, tenaga, pikiran, dan proses diplomasi yang panjang. Karena itu perlu strategi untuk menentukan mana yang benar-benar penting untuk direpatriasi,” ujar Dewi Coryati.

Politisi Fraksi PAN tersebut menegaskan bahwa strategi repatriasi yang tepat akan membantu pemerintah memaksimalkan manfaat koleksi budaya sekaligus mengoptimalkan penggunaan sumber daya negara.

Dewi Coryati Soroti Pentingnya Kajian terhadap Koleksi Repatriasi

Dalam rapat tersebut, Dewi Coryati mencontohkan Koleksi Dubois yang terdiri dari sekitar 28.282 fosil manusia, flora, fauna, dan material paleoantropologi dari Jawa dan Sumatra. Menurutnya, jumlah koleksi yang sangat besar tersebut memerlukan kajian mendalam untuk menentukan bagian mana yang memiliki nilai strategis tertinggi.

Ia mengingatkan bahwa pemulangan seluruh koleksi tanpa pertimbangan matang dapat menimbulkan tantangan baru, mulai dari biaya transportasi hingga kebutuhan fasilitas penyimpanan dan konservasi.

“Kalau semuanya dibawa pulang, tentu membutuhkan biaya yang sangat besar. Selain itu, kita juga harus memikirkan tempat penyimpanan, perawatan, dan konservasinya. Karena itu, perlu ada prioritas terhadap benda-benda yang benar-benar memiliki nilai strategis,” katanya.

Anggota Komisi X DPR RI Dorong Keterlibatan Mahasiswa dan Akademisi

Selain aspek pelestarian budaya, Dewi Coryati melihat program repatriasi sebagai peluang besar untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan dunia akademik.

Ia mendorong keterlibatan mahasiswa, peneliti, dan akademisi dalam melakukan penelitian terhadap koleksi-koleksi budaya yang akan maupun telah direpatriasi ke Indonesia.

Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dapat menghasilkan berbagai penelitian ilmiah yang memperkaya pemahaman masyarakat terhadap sejarah dan kebudayaan nasional.

“Ini bisa menjadi kesempatan yang sangat baik bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam penelitian. Mereka mendapatkan pengalaman akademik, sementara pemerintah juga terbantu dalam mengembangkan kajian terhadap koleksi-koleksi tersebut,” ujarnya.

Dewi Coryati Tekankan Pentingnya Storytelling dalam Pelestarian Budaya

Dewi Coryati menegaskan bahwa keberhasilan program repatriasi tidak hanya diukur dari jumlah benda yang berhasil dipulangkan, tetapi juga dari kemampuan pemerintah membangun narasi yang kuat di balik setiap koleksi tersebut.

Menurutnya, masyarakat perlu mengetahui asal-usul, fungsi, perjalanan sejarah, serta makna budaya dari setiap benda yang direpatriasi agar koleksi tersebut memiliki nilai edukatif yang lebih besar.

“Storytelling itu sangat penting. Masyarakat perlu tahu kenapa benda itu penting, bagaimana sejarahnya, dan apa maknanya bagi bangsa Indonesia. Ketika ceritanya kuat, masyarakat akan lebih tertarik untuk mengenal dan mempelajarinya,” jelas Dewi Coryati.

Ia menambahkan bahwa benda yang secara fisik terlihat sederhana sekalipun dapat memiliki daya tarik luar biasa apabila didukung dengan narasi sejarah yang kuat dan mudah dipahami masyarakat.

Dewi Coryati Dorong Sinergi untuk Kembangkan Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif

Lebih lanjut, Dewi Coryati mendorong sinergi antara Kementerian Kebudayaan, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Ekonomi Kreatif dalam mengembangkan pemanfaatan koleksi hasil repatriasi.

Menurutnya, benda-benda budaya tersebut dapat diintegrasikan ke dalam berbagai program wisata edukasi, pameran budaya, hingga pengembangan produk ekonomi kreatif yang bernilai tambah.

Dengan pendekatan yang tepat, koleksi hasil repatriasi tidak hanya menjadi aset budaya yang tersimpan di museum, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui sektor pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif.

“Kolaborasi antar kementerian dan lembaga sangat dibutuhkan. Benda-benda yang direpatriasi jangan hanya menjadi koleksi museum, tetapi juga harus mampu memberikan manfaat bagi pendidikan, pariwisata, dan ekonomi kreatif Indonesia,” pungkas Dewi Coryati.