fraksipan.id — Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Okta Kumala Dewi, mengapresiasi keputusan pemerintah yang tidak melakukan impor beras pada tahun 2026. Kebijakan tersebut dinilai sebagai bukti konkret keberhasilan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan swasembada beras nasional, di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan.
“Keputusan tidak mengimpor beras pada 2026 menunjukkan produksi dalam negeri sudah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Ini capaian strategis dan historis bagi sektor pangan Indonesia,” ujar Okta.
Berdasarkan data pemerintah, produksi beras nasional pada 2025 mencapai sekitar 34,7 juta ton, meningkat lebih dari 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog berada di kisaran 3,7 juta ton—tertinggi dalam beberapa tahun terakhir—sehingga ketahanan pangan nasional dinilai berada pada posisi sangat aman.
Okta juga menyoroti dampak global dari kebijakan Indonesia menghentikan impor beras. Menurutnya, langkah tersebut berpengaruh langsung terhadap pasar internasional.
“Ketika Indonesia, yang selama ini menjadi salah satu importir beras terbesar dunia, menghentikan impor, harga beras dunia turun signifikan hingga di bawah USD 400 per ton. Padahal sebelumnya sempat berada di kisaran USD 600–650 per ton,” jelasnya.
Kondisi ini, lanjut Okta, menegaskan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok pangan global, khususnya komoditas beras.
Keberhasilan swasembada beras, kata Okta, tidak hanya tercermin dari data produksi dan stok, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Ia mencontohkan keterlibatannya mendampingi Menko Pangan Zulkifli Hasan dalam kegiatan sosial di Kota Tangerang.
“Pada Kamis, 18 Desember 2025, kami membagikan 1.000 paket sembako murah untuk pengemudi ojek online. Ini bukti capaian sektor pangan langsung menyentuh masyarakat,” ujarnya.
Paket sembako tersebut berisi 5 kg beras, 1 liter minyak goreng, 1 kg gula, dan 1 kg tepung, dengan nilai sekitar Rp190 ribu. Masyarakat dapat menebusnya seharga Rp100 ribu berkat subsidi pemerintah dan kolaborasi dengan mitra swasta.
Menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), Okta optimistis harga pangan tetap stabil seiring kuatnya pasokan dalam negeri dan koordinasi lintas kementerian yang solid.
“Stok melimpah, produksi meningkat, dan program pangan murah terus berjalan. Masyarakat tidak perlu khawatir lonjakan harga jelang Nataru,” pungkas Okta.