fraksipan.com – Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Muazzim Akbar, menegaskan pentingnya memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyasar kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD—yang dikenal sebagai kelompok 3B—sebagai strategi utama percepatan penurunan angka stunting secara nasional.

Hal tersebut disampaikan Muazzim dalam kegiatan Sosialisasi Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Senin (13/10/2025).

“Pemberian makanan bergizi untuk kelompok 3B adalah langkah awal yang penting. Tapi untuk hasil yang berkelanjutan, masyarakat juga perlu memahami pentingnya membangun keluarga pada usia yang matang dan dengan kesiapan yang baik,” ujar Muazzim Akbar dalam keterangan resminya di Jakarta.

Legislator PAN tersebut juga menekankan bahwa intervensi gizi harus berjalan beriringan dengan edukasi usia ideal menikah, perencanaan keluarga, dan pola asuh yang sehat. Ia merujuk pada standar usia ideal menikah yang ditetapkan oleh BKKBN—21 tahun bagi perempuan dan 25 tahun bagi laki-laki—sebagai indikator kesiapan membangun keluarga sehat dan sejahtera.

“Usia menikah yang matang bukan sekadar angka, tetapi mencerminkan kesiapan fisik, mental, sosial, dan ekonomi untuk membangun keluarga yang berkualitas,” tambah Muazzim.

Senada dengan hal itu, Direktur Kebijakan Strategi Bidang Peningkatan Kualitas Sumber Daya dan Kemandirian Keluarga Berencana BKKBN, Indra Murty Surbakti, menegaskan bahwa penanganan stunting harus dilakukan secara komprehensif dan lintas sektor.
Menurutnya, intervensi gizi perlu didukung dengan perubahan perilaku dan edukasi keluarga.

“Stunting tidak hanya soal makanan, tapi juga bagaimana keluarga dibentuk dan dijalankan — mulai dari usia menikah, perencanaan kehamilan, hingga pola pengasuhan anak,” jelas Indra.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN NTB, Lalu Makripuddin, menyebut bahwa perkawinan usia anak masih menjadi faktor utama tingginya angka stunting di daerahnya. Oleh karena itu, sosialisasi mengenai usia ideal menikah dan edukasi gizi harus menjadi bagian integral dari program MBG.

“Melalui MBG untuk kelompok 3B, kami ingin memastikan intervensi gizi benar-benar menyentuh sasaran yang paling membutuhkan, agar anak-anak dapat tumbuh optimal,” ujarnya.

Muazzim Akbar menegaskan, keberhasilan program MBG dan Bangga Kencana sangat bergantung pada sinergi lintas lembaga dan kolaborasi masyarakat.

“Dengan sinergi yang kuat, program ini tidak hanya menurunkan angka stunting, tetapi juga membentuk generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif,” pungkasnya.

Muazzim Akbar menegaskan pentingnya penguatan Program MBG bagi kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) sebagai kunci percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.